Where To Go

Ramai-ramai belajar angklung di Saung Angklung Udjo

2

Salah satu cara mengenal suatu budaya adalah melalui seni tradisional. Di Padasuka, Bandung Utara, terdapat sebuah konsep one-stop-point bagi yang tertarik mendalami angklung.

Pemain cilik angklung di Saung Angklung Udjo

Angklung adalah alat musik khas Jawa Barat yang terbuat dari bambu. Bentuknya terdiri dari beberapa bilah–umumnya dua–yang ditancapkan pada sebuah bingkai yang juga terbuat dari bambu juga. Cara membunyikannya cukup mudah, yakni dengan tangan kiri memegang bingkai bawah angklun, sementara tangan kanan menggoyangkan bilah angklung dari kanan ke kiri.  Kaata “angklung” terdiri dari kata “ang” yang berarti nada, dan “lung” yang berarti putus. Dengan demikian angklung memiliki makna “nada yang terputus”.

Sesuai dengan maknanya, bunyi yang dihasilkan sebuah angklung berupa nada yang berulang. Sehingga untuk dapat memainkan satu buah lagu secara lengkap, dibutuhkan beberapa pemain angklung dalam sebuah ansambel.

Pada awalnya, yakni masa Kerajaan Sunda, angklung dimainkan demi menghormati Dewi Sri yang telah menghidupi masyarakat melalui tanaman-tanaman yang tumbuh subur. Sempat pula angklung dimainkan untuk menyemangati para prajurit yang berlaga di medan perang.

Resital angklung 2008 di Saung Angklung Udjo

Angklung tertua yang masih ada hingga saat ini adalah Angklung Gubrag yang sudah ada sejak abad ke-17. Saat ini, Angklung Gubrag terdapat di Kampung Cipining, Kecamatan Cigedug, Bogor. Mitos yang beredar menyebutkan bahwa angklung ini mulai ada ketika kampung tersebut mengalami musim paceklik. Selain Gubrag, beberapa angklung tua tersimpan di Museum Sri Baduga, Bandung.

Seiring berjalannya waktu, angklung tak hanya dimainkan saat ritual adat. Kelompok musik angklung kerap pentas di luar negeri dan memukau masyarakat internasional.

Adalah Daeng Soetigna yang pada tahun 1938 melakukan inovasi dengan menciptakan angklung berdasarkan tangga nada diatonik, dan bukannya tangga nada pélog atau saléndro seperti angklung pada umumnya. Perubahan tersebut harus diakui mendorong pertumbuhan permainan angklung, yang mulai digunakan untuk tujuan pendidikan dan hiburan. Bahkan, pada tahun 1955, angklung dimainkan bersama orkestra pada perhelatan Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Satu dasawarsa setelahnya, tepatnya tahun 1966, seorang murid Daeng Soetigna, Udjo Ngalagena, membuka pusat pengembangan angklung yang diberi nama Saung Angklung Udjo. The rest is history.

.

Saung Angklung di Bandung

Warna-warni angklung koleksi Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sanggar budaya Jawa Barat yang fokus pada pengembangan seni bermain angklung, dan kerajinan tangan berbahan dasar bambu. Lokasinya di utara kota Bandung, tepatnya di Jalan Padasuka 118.  Udjo mendirikan saung ini bersama istrinya, Uum Sumiati pada tahun 1966 silam. Mereka mengemban misi untuk menjadi laboratorium pendidikan dan pelatihan untuk melestarikan alat musik tradisional Sunda, khususnya angklung.

Pertunjukan seni berlangsung setiap hari di tempat ini, dengan durasi pertunjukan sekitar 2 jam. Pengantar disampaikan salam dua bahasa, Indonesia dan Inggris. Sementara sinopsis yang diberikan kepada pengunjung sebelum pertunjukan dimulai, dibuat dalam bahasa Indonesia, Sunda, dan Inggris. Pertunjukan dikemas agar menghibur dan interaktif untuk menyiasati durasi yang tergolong lama. Di akhir pertunjukan, penonton dapat menari bersama di panggung, dan diiringi alunan musik angklung.

Selain pertunjukan seni, kita juga dapat menyaksikan langsung proses pembuatan angklung dan membelinya di toko cinderamata yang juga berada di area ini. Selain itu, Saung Angklung Udjo memiliki beberapa program internal, seperti rangkaian pertunjukan singkat yang terdiri dari demonstrasi Wayang Golek, prosesi helaran, tarian tradisional, dan permainan angklung (Afternoon Bamboo Show), tur setengah hari yang bisa diikuti oleh siswa TK hingga SMA (Half Day at Saung Angklung Udjo)dan pelatihan membuat angklung dan berkesempatan untuk main di acara Kraulinan Urang Lembur, serta membawa pulang angklung buatannya tersebut (Saung Angklung Udjo Workshop).

Peserta IACS (Indonesian Art and Culture Scholarship) Saung Angklung Udjo 2012  membawakan Lagu Cherrybelle di Bandung

.

Ada pula beberapa pertunjukan eksternal yang terdiri dari Pertunjukan interaktif yang memainkan lagu-lagu populer (Iwung), pertunjukan interaktif dan orkestra (Awi) yang dipercaya dapat menumbuhkan semangat patriotik dan menggugah sisi emosional penonton, Gombon yang turut dimeriahkan dengan pertunjukan bambu Kaulinan Urang Lembur di tempat Anda inginkan, Alunan Rumpun Bambu (Arumba) yang merupakan inovasi instrumen bambu dalam format band yang dapat menghadirkan beragam musik mulai dari tradisional, klasik, hingga kontemporer, dan pertunjukan Sunda lainnya seperti tarian Rampak Kendang dan Calung Cilik.

Jangan kaget jika melihat anak-anak kecil sibuk memainkan angklung di tempat ini. Hal tersebut sudah menjadi pemandangan biasa, mengingat SAU juga mengadakan pelatihan angklung yang dapat diikuti peserta sejak usia dini.

Keceriaan para pemain angklung cilik

Sekadar informasi, UNESCO menetapkan angklung sebagai Karya Budaya Tak Benda dan Warisan Budaya Dunia pada 18 November 2010. Dan pada bulan Juli 2011, Indonesia mencetak rekor Guiness World Records dalam permainan angklung dengan peserta multibangsa terbanyak dengan lebih dari 5.000 orang memainkan lagu “We Are the World” di taman National Mall-Washington Monument, Washington DC, Amerika Sertikat. Saat itu, Daeng Udjo dari Saung Angklung Udjo sendiri lah yang memandu ribuan peserta memainkan lagu ciptaan Lionel Richie dan Michael Jackson tersebut.

Bagi yang tertarik mengunjungi Saung Angklung Udjo bersama rombongan, baik dari sekolah, kantor, yayasan, ataupun keluarga besar, sebaiknya melakukan pemesanan dari jauh-jauh hari. Hal ini untuk menghindari tak adanya tempat yang tersisa, mengingat antusias pengunjung yang cukup tinggi untuk datang ke saung ini. Terutama pada hari libur.
 

Saung Angklung Udjo

Peta wisata Bandung menuju Saung Angklung Udjo

Alamat:  Jalan Padasuka 118
Telepon : (022) 7271714
Jam Buka: Senin – Minggu 10:00 – 20:00 WIB
Bea Masuk:  Pertunjukan harian: Rp 50.000, Program setengah hari: mulai Rp. 110.000
Situs: www.angklung-udjo.co.id

.

Transportasi

Pengunjung yang berasal dari luar Jawa Barat, dapat memilih penerbangan menuju bandara terdekat, Husein Sastranegara (Bandung) atau Soekarno-Hatta (Jakarta). Untuk lebih jelasnya, silakan cek jadwal penerbangan di WEGO Indonesia.

Dari bandara Husein Sastranegara, perjalanan dapat dilanjutkan dengan taksi, atau angkutan umum yang menuju Padasuka. Sementara dari Jakarta, Anda dapat menggunakan jasa travel yang kini marak beroperasi dari bandara Soekarno- Hatta.

Akomodasi

Jika ingin bermalam, kota ini memiliki banyak penginapan yang dapat dipilih sesuai lokasi, jenis, dan budget Anda. Untuk lebih lengkapnya, cek daftar lengkap penginapan di Bandung.

 

Foto: Saung Angklung Udjo

ABOUT THE AUTHOR

Writer / Entries 110
Mengantongi banyak destinasi impian, terutama kedai kopi lokal dan pantai-pantai dari ujung barat sampai timur Indonesia. Sedikit berjiwa kucing, senang bermain air meski tak pandai berenang.
Baca ini juga
Where To Go
0

Wisata lahar Merapi di Kaliurang

Lava Tour adalah salah satu aktivitas wisata yang tercipta pascaerupsi Merapi tahun 2010. Menantang adrenaline, sekaligu...
Where To Go
0

Semarak karnaval-karnaval nusantara

Senang berburu kemeriahan parade dan karnaval? Kabari baiknya, banyak daerah di Indonesia yang rutin menyelenggarakan ac...
Scroll to top