Editor / Entries 201 v
Mengantongi banyak destinasi impian, terutama kedai kopi lokal dan pantai-pantai dari ujung barat sampai timur Indonesia. Sedikit berjiwa kucing, senang bermain air meski tak pandai berenang.

Ritual Tabot siap digelar di Bengkulu

Ritual tabot

Ritual Tabot untuk menyambut Tahun Baru Hijriah dan mengenang gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, akan digelar pada 14-24 November di Bengkulu.

Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib gugur dalam peperangan di Padang Karbala, Irak, pada 10 Muharram 61 Hijriah (681 M). Ritual Tabot diselenggarakan untuk mengenang kisah kepahlawanan mereka yang tak gentar melawan pasukan Ubaidillah bin Zaid.

Tahun Baru Hijriah atau 1 Muharram sendiri akan jatuh pada tanggal 15 November nanti. Pada awalnya, upacara Tabot dilaksanakan untuk mengenang upaya pemimpin Syiah dan kaumnya dalam mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak, lalu memakamkannya di Padang Karbala.

Istilah Tabot berasal dari kata Arab Tabut yang berarti “kotak kayu” atau “peti”. Tabot dibuat bertingkat menyerupai menara masjid dengan ukuran lebar 1,5 – 3 meter dan tinggi 5 – 12 meter. Tabot terbuat dari kayu, bambu, dan rumbia, yang kemudian dilapisi kertas berwarna-warni dengan berbagai motif dan ornamen. Besar kecilnya Tabot tergantung kemampuan dan keinginan para pembuat Tabot itu sendiri.

Tabot asli memiliki aturan atau pakem khusus. Perubahan bentuk Tabot harus mengkuti ketentuan yang disepakai oleh Keluarga Tabot. Ada dua kelompok besar pemilik Tabot, yakni Tabot Berkas, Pasar Baru, Kampung Kepiri, dan Malabero), dan Tabot Pondok Besi, Kebun Ros, Tengah Padang, dan Kampung Bali.

Tidak ada dokumentasi resmi mengenai kapan upacara Tabot pertama kali masuk dan dilaksanakan di Bengkulu. Namun banyak yang menduga tradisi ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborough. Mereka yang umumnya didatangkan dari Madras dan Bengali, India, merupakan penganut Islam Syiah.

Para pekerja tersebut merasa kerasan hidup di Bengkulu. Mereka dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syekh Burhanuddin, memutuskan tinggal dan mendirikan komplek pemukiman Berkas, yang sekarang dikenal sebagai Kelurahan Tengah Padang. Imam Senggolo kemudian menikah dengan perempuan Bengkulu, dan sejak saat itu keturunan mereka dikenal sebagai keluarga Tabot.

Pada kesempatan ini kesenian tradisional Bengkulu, Bubu Gila atau yang oleh masyarakat Bengkulu disebut Lukah Gila, turut ditampilkan. Kesenian ini merupakan permainan yang pada masa lalu dibuat untuk menghibur masyarakat Lembak, suku asli Bengkulu.

Bubu atau alat tangkap ikan tradisional, dihias hingga menyerupai orang-orangan sawah. Ia akan bergoyang mengikuti irama ketukan sapu lidi hijau dan tempurung kelapa, tak lama setelah seorang pawang merapalkan mantra ke arahnya. Sang pawang akan meminta penonton yang hadir untuk memegang Bubu dan menahan goyangannya. Semakin kuat Bubu dipegang, maka akan semakin kuat pula goyangannya.

Kesenian berusia ratusan tahun ini akan diramaikan oleh kehadiran para penari tradisional serta iringan musik kulintang dan gong. Setiap tahun, acara berpusat di depan Balai Raya Semarak Bengkulu (rumah kediaman Gubernur Bengkulu), tepatnya di lapangan Polres Bengkulu. Ritual ini akan berakhir pada 10 Muharram (24 November) dengan membuang Tabot di Karbela yang berjarak sekitar 3 Km dari lokasi awal. Pengarakan 100 tabot ke tempat pembuangan ini merupakan acara puncak Festival Tabot.

Upacara Tabot mengandung aspek ritual dan non ritual. Aspek ritual hanya boleh dilakukan dan diikuti oleh keturunan Keluarga Tabot yang dipimpin oleh sesepuh keluarga ini. Ada ketentuan khusus atau norma-norma yang harus ditaati oleh mereka. Sementara acara yang mengandung aspek non ritual dapat diikuti oleh siapa saja.

Penyelenggaran Upacara Tabot juga dimaksudkan untuk melestarikan kesenian tradisional Bengkulu agar terhindar dari kepunahan. Seperti dilansir Antara Bengkulu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Elka Pangestu, optimis Upacara Tabot dapat menarik minat wisatawan asing yang tertarik dengan wisata yang merupakan tradisi budaya dan religi. Ia mencontohkan tradisi menyambut Paskah di Larantuka, Nusa Tenggara Timur, yang dipadati ribuan umat Katolik.

Baca ini juga
Scroll to top