Senior Editor / Entries 233 v
Mencintai sains, aurora borealis, Bandaneira, dan 3G.

Tradisi Sadranan sambut Ramadan

Sadranan atau ruwahan adalah tradisi nyekar yang biasa berlangsung setiap menjelang Ramadan (bulan Ruwah). Diadopsi Wali Songo dari tradisi penghormatan terhadap arwah leluhur pada zaman sebelum Islam masuk, sadranan biasanya sepaket pula dengan acara bersih makam, mengirim doa kepada leluhur, tabur bunga, dan kenduri.

Beda tempat, berbeda pula kemeriahan sadranan yang ditawarkan. Yang jelas, sadranan selalu menarik dan banyak pengunjung. Sekarang, simak yuk tradisi sadranan di berbagai daerah di Jawa.

Sleman

Dalam tradisi Sadranan Agung Wotgaleh di Berbah, Sleman, Yogyakarta, seusai nyekar masyarakat mengarak gunungan berisi hasil bumi, menggelar kenduri, atraksi kesenian, dan pagelaran wayang sebagai ungkapan rasa syukur menjelang datangnya bulan puasa.

Sejumlah warga dengan pakaian Jawa mengarak gunungan yang berisi hasil bumi dalam tradisi Sadranan Agung Wotgaleh di Berbah, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (29/6). Tradisi tersebut bertujuan untuk menghormati para leluhur sekaligus sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/ss/ama/13

Sadranan Agung Wotgaleh. Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Magelang

Di kelurahan Malangan, Magelang, Jawa Tengah, ritual sadranan lain lagi. Setiap menyambut bulan puasa, masyarakat di sana membawa makanan khas berupa kupat dan brongkos daging sapi untuk disantap bersama sebagai bentuk ungkapan syukur dan kerukunan antarwarga. Warga juga memeriahkan tradisi tersebut dengan berebut gunungan kupat.

Sejumlah warga berebut gunungan Kupat saat tradisi Nyadran Kupat Brongkos di kelurahan Malangan, Magelang, Jateng, Senin (17/6). Pada nyadran dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan tersebut ratusan warga membawa makanan berupa Kupat dan Brongkos daging sapi untuk disantap bersama sebagai  ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan bentuk kerukunan antar warga. Foto: Antara/Anis Efizudin

Sadranan di Magelang. Foto: Antara/Anis Efizudin

Yogyakarta

Sering melihat kue apem saat sadranan? Jangan heran, sebab apem adalah salah satu simbol dari tradisi bermaafan sebelum puasa. Masyarakat biasa membuat kue apem untuk dibagikan ke tetangga dan keluarga.

Istilah apem berasal dari kata afun atau afuan yang berarti pengampunan. Jadi, di balik kue tersebut ada filosofi yang berusaha dihayati saat menyambut bulan puasa yakni supaya manusia tak pernah lupa memohon ampun saat berbuat salah kepada Tuhan dan sesama. Tahun ini, warga Jalan Sosrowijayan, kawasan Malioboro, Yogyakarta, menggelar ruwahan dengan Festival Apem. Warga membuat makanan tradisional apem untuk menyambut datangnya bulan penuh maaf, Ramadan.

Warga membuat makanan tradisional apem pada acara festival apem di Jl. Sosrowijayan, Yogyakarta, Minggu (30/6). Festival apem tersebut dalam rangka tradisi Ruwahan menyambut datangnya bulan Ramadan. ANTARA FOTO/Noveradika/nz/13

Festival apem. Foto: Noveradika

Baca ini juga
Scroll to top