Siapa yang tak kenal Borobudur? Monumen Buddha termegah di dunia ini tidak hanya dikenal oleh wisatawan Indonesia namun juga sangat populer di kalangan wisatawan dunia. Selain Bali, Borobudur juga menjadi salah satu tujuan wajib wisatawan mancanegara saat mengunjungi Indonesia. Karena keagungannya, candi yang dibangun pada abad ke-8 ini ditetapkan oleh UNESCO sebagai salah satu world heritage atau warisan kebudayaan dunia.
Dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, candi yang dibangun dari 60.000 meter kubik batu vulkanik ini sempat menjadi pusat spiritual agama Buddha Bangsa Mataram Kuno dan bangsa-bangsa lain. Sekitar abad ke-9 hingga abad ke-11, banyak peziarah yang mengunjungi candi ini. Mereka berdatangan dari India, Kamboja, Cina, dan Tibet menggunakan perahu yang bersandar di Pelabuhan Pragota yang kini lebih dikenal sebagai Kota Semarang.
Tinggal di Yogyakarta yang hanya berjarak 42 Km dari Borobudur membuat saya beberapa kali mengunjungi candi megah ini. Terakhir saya ke sini, saya sempat mampir ke warung bakmi Pak Parno yang legendaris. Oleh Pak Parno yang ternyata seorang fotografer, saya ditunjukkan foto-foto Borobudur dari berbagai sudut. Salah satu foto yang memikat saya adalah foto Candi Borobudur berselimut kabut di kala fajar. Di belakang candi yang nampak mungil itu terlihat Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, serta mentari pagi yang menampakkan diri malu-malu.
Januari lalu seorang kawan yang baru tiba dari Jakarta minta diantar untuk menyaksikan sunrise Borobudur. Setahu saya, untuk menikmati pemandangan matahari terbit dari jajaran stupa yang ada di Candi Borobudur, wisatawan domestik dikenai biaya Rp 230.000 per orang, sementara wisatawan mancanegara sebesar Rp 380.000 per orang. Berhubung saya berkantong pas-pasan, saya pun mengusulkan untuk melihat sunrise Borobudur dari sisi yang yang ditunjukkan oleh Pak Parno, yaitu dari Bukit Punthuk Setumbu. Selain bisa melihat Borobudur dari sisi yang berbeda, biayanya pun jauh lebih murah. Per orang hanya perlu membayar Rp 15.000.
Akhirnya pada Sabtu subuh yang gerimis, kami berkendara dari Jogja menuju Borobudur. Untuk mencapai Bukit Punthuk Setumbu bukanlah perkara sulit, sebab sudah ada beberapa petunjuk arah menuju lokasi tersebut. Dari depan Taman Wisata Candi, kami terus melaju menuju arah Hotel Manohara, kemudian lurus lagi ke arah perbukitan Menoreh. Tak jauh dari Hotel Manohara ada pertigaan dan petunjuk arah bertuliskan Borobudur Nirvana Sunrise. Kami pun belok kanan mengikuti petunjuk arah. Tak sampai 10 menit, kami tiba di parkiran Punthuk Setumbu.
Udara dingin menyergap begitu kami keluar dari kendaraan. Saya segera melilitkan syal dan merapatkan kancing kemeja lengan panjang yang saya pakai. Syukurlah gerimis sudah reda, tinggal menyisakan udara basah dan dingin serta jalanan yang becek. Perlahan kami menapakkan kaki di jalan makadam diterangi cahaya lampu neon yang tergantung di tiang. Tak berapa lama, jalan makadam berubah menjadi jalan tanah setapak yang sangat becek. Untung saya memakai sandal gunung yang bisa mencengkeram tanah dengan kuat. Sedangkan kawan saya yang memakai sepatu flat terpaksa berjalan tercepuk-cepuk, sambil menahan keseimbangan tubuh supaya tidak terpeleset.
Setelah 20 menit berjalan pelan bak siput, akhirnya kami pun tiba di puncak bukit yang terletak pada ketinggian 400 mdpl. Di puncak tersebut sudah banyak wisatawan yang becengkerama di gazebo. Sembari menunggu mentari yang muncul dari balik Gunung Merapi Merbabu, wisatawan bisa menikmati secangkir kopi atau teh yang disediakan oleh pengelola.
Pemandangan yang terlihat dari ketinggian Bukit Punthuk Setumbu sangatlah mempesona. Â Sejauh mata memandang yang terlihat hanyalah samudera kabut dengan latar Gunung Merapi dan Merbabu. Perlahan kabut terangkat naik dan siluet Candi Borobudur mulai terlihat dengan jelas. Di antara selimut kabut dan pepohonan yang basah, mahakarya Gunadarma itu mempertontonkan kemegahannya. Namun rupanya pagi ini kami belum beruntung sebab mentari tak juga menampakkan wajahnya. Meski begitu kami tidak kecewa. Menikmati pagi yang hening di Puncak Punthuk Setumbu sudah cukup menjadi awal hari yang sempurna.


